The Year of

The Year of NEW OPPORTUNITIES 2014.....The Year of NEW OPPORTUNITIES 2014.....The Year of NEW OPPORTUNITIES 2014

Jesus Lifestyle

Jesus Lifestyle

Dalam kitab Wahyu 3: 8, dikatakan, “Lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.” Tuhan itu sebenarnya telah membuka pintu bagi kita yang tidak dapat tutup. Kesempatan itu sudah Tuhan bukakan. Kita percaya bahwa dalam kesempatan pasti ada kejutan yang menyenangkan. Karena itu kita perlu momentum.
Momentum, dalam kamus bahasa Indonesia adalah saat yang tepat. Alkitab katakan kalau di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari (2 Pe 3:8). Kita tidak tahu kapan momentum itu datang, namun bersiaplah. Yang terutama sebelum itu kita harus mengasihi Allah supaya kita dikenal-Nya (1 Kor. 8:3) dan memiliki gaya hidup seperti Yesus. Seperti apakah gaya hidup itu?
1. Mengambil Keputusan untuk berubah.
Ada aturan yang kita kenal dengan “hukum suddenly”. Itu berbicara tentang sebuah perubahan yang terjadi. Di kitab Hakim-hakim 11:9-11, Yefta anak seorang sundal anak dari perempuan lain tidak mendapatkan warisan dari bapanya. Dia diusir lalu bergabung dengan barisan sakit hati hati, tapi suddenly (tiba-tiba) dia diangkat sebagai kepala dan panglima. Bukti dia di kenal sama Tuhan adalah dia membawa perkara itu kepada Tuhan di mezbah. Bukti bahwa dia mengambil keputusan untuk berubah. Yefta tertolak tapi dia mengambil keputusan untuk memaafkan dan melupakan.
2. Jangan menunda kesempatan.
Wahyu 3:20 menyatakan bahwa setiap detik Tuhan mengetuk pintu hati kita untuk berpesta dengan Tuhan. Dia mau makan bersama sama. Dan cara Tuhan mau masuk ke dalam hidup kita adalah dengan ketukan bukan paksaan (mendobrak pintu). Tuhan mempersilahkan kehendak bebas kita yang menentukan. Ketika saat ini tiba, jangan tunda lagi. Bukalah pintu buat Yesus masuk. Menunda kesempatan adalah cara alami membunuh kesempatan. Tidak ada yang lebih mahal dari kesempatan yang terlewatkan.
3. Bekerja Keras.
Ef 4:28 menegaskan bahwa kita harus bekerja keras. Kalau kita masuk dalam dunia kerja, bekerjalah berdasarkan nilai-nilai kebenaran. Jangan kerja dengan mengikuti cara-cara cara dunia. Kalau tidak, kita tidak akan menemukan momentum dalam hidup kita. Sebuah kutipan menyatakan begini: Luck is a point, where hardwork meet apportunity. Intinya adalah, orang yang bekerja keras itulah yang mendapatkan kesempatan dan momentum.
4. Memiliki Hikmat.
Mazmur 19:8, “Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.” Tuhan itu memberikan hikmat pada orang yang tak berpengalaman. Kita harus selalu penuh hikmat. Dari Firman Tuhan, perlu dibaca, direnungkan , direnungkan dan dilakukan. Karena itu kalau Anda ke gereja, jangan lupa bawa catatan. Supaya apa yang Anda dapatkan di gereja tidak hilang begitu saja. Anda bisa membuka kembali catatan-catatan itu. Ingatlah bahwa pengetahuan itu bisa didapat, tapi hikmat itu datangnya dari Tuhan. Orang yang penuh hikmat itulah yang mengerti momentum Tuhan.
Bagaimana keputusan Anda hari ini? Masihkah merindukan menemukan momentum Tuhan dalam hidup Anda? milikilah gaya hidup Yesus!

Pdt. Eluzai Frengky Utana
May 28, 2014

Attitude That Bring Momentum

Attitude That Bring Momentum 

Momentum berbicara tentang pergerakan. Gereja yang berada dalam momentum pasti berada dalam pergerakan. Kita adalah orang-orang yang tidak hidup di masa lalu, tetapi kita hidup di masa sekarang dan apa yang kita buat ini akan menentukan yang kita lakukan di masa depan. Namun juga harus didukung dengan sikap (attitude) yang baik.
Kita belajar dari satu pribadi yang banyak menginspirasi kehidupan orang Kristen yaitu Daud (1 Samuel 17:12-17). Ada beberapa fakta penting mengenai hal ini:
1. Ada peperangan di sekitar kita.
Di sekitar tempat Daud pasukan Israel sedang berperang melawan Filistin. Kehidupan kita dalam Tuhan selalu mengalami pertempuran. Kita berhenti mengalami masalah dalam hidup kita ketika kita bertemu dengan Yesus. Makanya ketika kita bangun pagi kita sudah harus siap untuk masuk hari ini dan melewati setiap hal yang terjadi dalam hidup kita.
2. Kita bisa setiap saat terlibat dalam peperangan itu.
Daud pasti tidak menyangka kalau hari itu dia akan ke medan pertempuran. Saat kita berada di zona ini, ketika ada Yesus maka iblis tidak bisa menyentuh kita. Namun Tuhan pasti bersama dengan kita.
3. Bagaimana sikap kita dalam pertempuran itu akan membawa kita kepada suatu momentum yang dahsyat dalam hidup kita. Dalam setiap pertempuran itu ada potensi di mana kita berada dalam momentum Tuhan. Waktu Daud hadir di medan perang, dia tidak sombong dan angkuh tetapi dia tetap mengarahkan diri buat Tuhan. Kita harus punya attitude yang benar untuk menangkap momentum itu.
Sikap Daud sesudah dan sebelum momentum:
1. Ada ketundukan dan ketaatan dalam hidup Daud (ay. 20).
Ketundukan menghasilkan keteraturan. Daud melakukan seperti yang bapaknya suruh dan dia bertanggung jawab. Ketundukan (submissioan) berbicara tentang menundukan diri pada apa yang ada di atas kita. Apapun yang kita kerjakan di dalamnya, jika ada agenda pribadi maka semua itu akan hancur. Sebab ketundukan menghasilkan keteraturan. Sebelum Daud masuk medan perang dia selalu bertanya kepada Tuhan. Karena itulah mengapa Daud disebut sebagai orang yang berkenan di mata Tuhan.
2. Ada kegairahan yang nyata dari diri Daud (ay 26).
‘Antusiame itu mengubah dunia’. Antusiasme itu sumber dari sebuah perjuangan dan tanpa itu tidak ada sesuatu yang besar yang bisa kita capai. Antusiasme dalam Daud membunuh seorang mesin perang Filistin, Goliat. Daud adalah seorang pemberani dan dunia ini milik orang-orang yang berani.
3. Ada keberanian dalam kehidupan Daud (ay 34-37)
Keberhasilan bukanlah final. Kekalahan itu tidak fatal adalah keberanian untuk melanjutkan itu yang masuk hitungan. Semua pahlawan iman adalah orang yang berani yang tahu Tuhan menyertai mereka. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berketatapan tidak mau menyembah patung. Dan memang Tuhan melepaskan mereka tetapi sekalipun tidak ditolong mereka akan tetap mengasihi Tuhan.
4. Ada kesiapan dan keterandalan pada diri Daud (ay 38-39).
Daud sudah latihan dan dipersiapkan oleh Tuhan. Seringkali kita selalu merasa kurang, dan tidak ada kesiapan. Jadi ketika momentum itu datang maka kita tidak siap. Ada ketulusan dan keaslian dalam diri Daud (ay 38-39). Jangan pernah jadi orang lain. Lebih baik murah tapi asli daripada tiruan. Kita lebih baik tampil apa adanya.
5. Ada ketergantungan sepenuhnya kepada Tuhan (ay 43-45).
Musuh mencoba menintimidasi Daud. Namun Daud mempunyai motto: kalau Tuhan di pihakku siapakah lawanku? Artinya Daud menyerahkan sepenuhnya hidupnya kepada Allah dan dia mengandalkan Tuhan sepenuhnya.

Pdt. Daniel Januar Tanudjaja
Jun 11, 2014

Perhatikan Hal yang Kecil

Perhatikan Hal yang Kecil 

“Markus 6:45 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil” (Markus 6:45-52).
Dalam masa kampanye yang ditawarkan pemerintahan yang baru. Ketika Yesus datang ke bumi, yang ditawarkan adalah kerajaan baru dan Yesus yang menjadi Rajanya. Dan Raja ini mempedulikan kebutuhan kita. Misalnya, saat Dia memberi makan ribuan orang dengan modal lima roti dan dua ikan. Sebelum Dia menggandakan makanan itu Dia mengucap syukur kepada Bapa.
Kita bisa belajar mengucap syukur dari hal-hal yang kecil untuk mengenal kesetiaan Tuhan. Kita bisa mengucap syukur untuk hal-hal yang sederhana.
Di ayat itu juga dikatakan bahwa Yesus berkata kepada murid-muridnya, supaya mereka yang harus memberi orang banyak itu makan. Tuhan Yesus berkata bukan Musa yang memberikan roti di padang belantara tapi Bapa surgawi. Dan Yesus adalah Roti Hidup itu yang tidak akan membuat orang lapar lagi.
Peristiwa di pembacaan ayat hari ini diawali ketika Yesus memerintahkan murid-murid-Nya ke gunung untuk berdoa. Jika Yesus yang memerintahkan, maka Yesus yang bertanggung jawab. Ketika hari sudah malam mereka sudah susah payah mendayung, jam 3 pagi yesus datang berjalan di atas air seolah-olah ingin melewati mereka. Manusia memang tidak terbiasa dengan kegoncangan. Kita ingat bagaimana malaikat pembinasa akan membinasakan semua anak sulung yang ada di Mesir, mulai dari anak Firaun sampai anak sulung hamba, tetapi orang Israel mengambil seekor domba dan darahnya disapukan di ambang pintu. Saat goncangan seperti ini terjadi, anak Tuhan terpelihara.
Waktu mereka keluar dari Mesir, Tuhan memberikan perlindungan tiang awan di waktu siang dan tiang api di waktu malam. Dan Tuhan juga sengaja menuntun mereka ke depan laut yang dalamnya 800 meter. Namun Tuhan itu tidak berhenti menjaga kita, melihat kita, dan menyertai kita. Jam 3 pagi Yesus datang berjalan di atas air. Tuhan akan datang ketika kita memanggilnya (jam 3 pagi menggambarkan keputusasaan). Pada giliran jam 3 pagi Tuhan berkata pada Musa supaya ia mengulurkan tongkatnya untuk membelah air laut itu dan menguburkan orang mesir. Karena itulah mengapa Allah memberikan perintah supaya kita berseru pada pada masa kesesesakan dan Ia akan meluputkan kita. Tuhan bekerja pada waktu jaga malam. Jangan takut sebab pada malam hari kita akan melihat Tuhan.
Tuhan memang tidak menjanjikan perjalanan hidup yang mulus. Jalan Tuhan tidak gampang meskipun itu Tuhan yang menyuruhnya. Bukankah Tuhan yang menyuruh orang Israel keluar dari Mesir dan Dia pula yang menyuruh murid-murid-Nya menyeberang danau Galilea sebelum badai itu datang?
Jadi kita dapat belajar bahwa Allah mempedulikan kita meskipun itu kelihatannya kecil. Karena itu mari ingat lagi hal-hal yang kita anggap kecil dan hal-hal yang sederhana dalam hidup kita yang membuktikan pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita. Dan Dia berkuasa untuk melakukan hal-hal yang kita tidak duga

Pdt. Dr. Timotius Arifin T., DPM                                   
Jun 18,2014